Headlines News :

Parenting



#Parenting
Bagaimana menjadi orang tua yg tau minat, bakat dan potensi anak ?

Dalam kepercayaan bangsa yahudi yg terkenal cerdas, jg mungkin diimani umat nasrani, adalah tau cara serta mengerti minat bakat anak, tak sekedar mengejar nilai yg cenderung terbebani dg PR ( pekerjaan rumah ), ujian tulis yg sifatnya teoritis.

Bermula dari kisah nabi Yacub dg 12 putranya, mereka mempunyai kecerdasannya masing2. Dari riset dunia ada 9 tipe kecerdasan manusia yakni spatial (kuat dalam konsep ruang), natural, musikal, logika, kinestik, linguistic, eksistensial, interpersonal dan intrapersonal. Masih ada 3 potensi yg belum dipetakan dan masih dalam tahap riset, Manusia bisa memiliki satu saja atau dua kecerdasan atau dalam bahasa biasa disebut potensi. Jadi gak ada manusia yang terlahir tanpa potensi. Begitu juga dengan anak kita. Semua anak memiliki potensi namun tugas orangtua untuk menemukan dan menumbuhkan potensi tersebut. Sehingga kelak tak menjadi orang tua yg cenderung pragmatis "yang penting sekolah rajin, belajar giat, nilai bagus, cari kerja gampang" tapi tak kenal potensi dan passion anak.

Mungkin saat ini Kenzie belum menunjukan potensi utamanya, tp ada kemungkinan ketertarikan minat dan potensi dibidang linguistic, interpersonal dan intrapersonal, dia lebih antusias jika sy ajarkan atau mendengarkan dongeng dan cerita, tak sekedar mendengar bahakan dia bisa membuat cerita baru dg hanya melibatkan 2 binatang, untuk kosakata bahasa dan bicara, tak diragukan lagi sangat fasih sekali dalam merangkai kata, sebagai contoh hal yg sebenarnya blm pernah sy ajarkan, ketika bercerita dan berperan menjadi rival dalam pertarungan binatang, meski sudah kalah dia selalu berujar " pertarungan ini belum selesai bung" , apakah ada anak 4thn berucap dg kata "bung", sy pun blm pernah mengajarkan kata "bung", tak tau jg dia dengar dari siapa.

Belum lagi saat dia bercerita dan menjelaskan macam2 binatang termasuk binatang purba ( dinosaurus ), banyak anak2 sebaya kakaknya ( Gavin ) menguji pengetahuan dia dg bertanya nama binatang pada gambar dan miniatur, dia cepat sekali menjawab kadang kala dg tambahan dlm bahasa inggrisnya,

Yang jadi pertanyaan, kenapa setiap kali belajar langsung dari buku dia jadi ngantuk ?
 

Manusia Belum Lengkap




Saat mendengar, melihat, membaca, kata "gratis" yang pertama orang fikirkan pada umumnya adalah "gak bayar sama sekali alias cuma2", dan ketika mendengar, melihat dan membaca kata "diskon" yang pertama orang fikirkan pada umumnya adalah "potongan harga alias kortingan". Namanya jg orang umum ya pasti pengertiannya umum jg.

Di dunia marketing, kata apa saja bisa menjadi beda arti, tujuannya apa lagi kalo bukan untuk menarik minat konsumen, sebagai contoh iklan sampo yg diperankan oleh Anggun dg kata2 khasnya "jadi duta sampo lain ahaghaghag" padahal blm tentu Anggun sendiri pakai sampo tersebut, minimal gak setiap keramas pake itu lah, kadang2 emeron siapa yang tau ?

Saat ini yg sedang gencar di beberapa platform aplikasi jual beli, dan manjur sekali untuk menarik minat konsumen adalah promo "gratis ongkir" nah ketika orang pertama sekedar dengar atau membaca mungkin taunya ya seberapapun jumlah beli dan nilai transaksinya pasti "gratis biaya kirim tanpa bayar sepeserpun" , tapi saat menggunakan dan memahami tentang batasan dan penggunaannya, akhirnya orang paham bahwa ternyata kata "gratis ongkir" tak lebih dari "diskon" saja, padahal makna awal secara umum 2 kata tersebut jelas beda.

Tapi apapun itu meskin hanya diskon saja faktanya minat pembeli tetap tinggi, terutama bagi orang2 yg lebih senang belanja di online shop, dan paling tinggi peminatnya adalah orang2 "mager", tinggal tak tik tak tik, barang sampai rumah, tanpa harus keluar rumah panas/hujan dijalan belum lagi biaya parkir dan macet dijalan, tentu ini adalah nilai lebih dari aplikasi tersebut, tak ayal pada akhirnya pihak expedisi sendiri yang kewalahan karena saking overload nya barang masuk dan mesti segera dikirim, apakah orang akan protes dg kondisi traffic proses kirim dan terima barang yg terlambat ? Untuk orang2 yg menggunakan fasilitas "gratis ongkir" sy kira jarang yang komplen, tapi untuk orang2 yg bayar fullpayment jasa expedisi sy yakin akhirnya dongkol jg.

Dalam profesionalitas kerja mestinya tak ada beda dalam pelayanan, karena sy yakin sudah ada kesepakatan antara pemilik aplikasi dan penyedia jasa expedisi. Tapi sebagai orang yg tau diri sy sendiri jg kadang gak akan banyak protes karena menggunakan jasa tersebut "gratis kok minta cepat".

Nah pokok dari masalah tersebut sebenarnya adalah kita sebagai konsumen dalam proses menerima informasi agar tak salah paham dalam mendengar, membaca sebuah penawaran (informasi) dan lebih pada pemahaman kita dalam mengerti isi berita atau penawaran tsb, bukan serta merta merasa raja, atau merasa punya lalu menafikan informasi yg ada. Sebagai manusia kadang kala kita bukan kurang membaca atau mungkin tak kurang jg dalam mendengar, tapi cuma kadang kurang/belum lengkap dalam memahami berita.

Jare wong jaman biyen "Pangan mentah we enak kok repot2 nggodok"
 
'#ManusiaBelumLengkap 

Saat mendengar, melihat, membaca, kata "gratis" yang pertama orang fikirkan pada umumnya adalah "gak bayar  sama sekali alias cuma2", dan ketika mendengar, melihat dan membaca kata "diskon" yang pertama orang fikirkan pada umumnya adalah "potongan harga alias kortingan". Namanya jg orang umum ya pasti pengertiannya umum jg.

Di dunia marketing, kata apa saja bisa menjadi beda arti, tujuannya apa lagi kalo bukan untuk menarik minat konsumen, sebagai contoh iklan sampo yg diperankan oleh Anggun dg kata2 khasnya "jadi duta sampo lain ahaghaghag" padahal blm tentu Anggun sendiri pakai sampo tersebut, minimal gak setiap keramas pake itu lah, kadang2 emeron siapa yang tau ? 

Saat ini yg sedang gencar di beberapa platform aplikasi jual beli, dan manjur sekali untuk menarik minat konsumen adalah promo "gratis ongkir" nah ketika orang pertama sekedar dengar atau membaca  mungkin taunya ya seberapapun jumlah beli dan nilai transaksinya pasti "gratis  biaya kirim tanpa bayar sepeserpun" , tapi saat menggunakan dan memahami tentang batasan dan penggunaannya, akhirnya orang paham bahwa ternyata kata "gratis ongkir" tak lebih dari "diskon" saja, padahal makna awal secara umum 2 kata tersebut jelas beda.

Tapi apapun itu meskin hanya diskon saja faktanya minat pembeli tetap tinggi, terutama bagi orang2 yg lebih senang belanja di online shop, dan paling tinggi peminatnya adalah orang2 "mager", tinggal tak tik tak tik, barang sampai rumah, tanpa harus keluar rumah panas/hujan dijalan belum lagi biaya parkir dan macet dijalan, tentu ini adalah nilai lebih dari aplikasi tersebut, tak ayal pada akhirnya pihak expedisi sendiri yang kewalahan karena saking overload nya barang masuk dan mesti segera dikirim, apakah orang akan protes dg kondisi traffic proses kirim dan terima barang yg terlambat ? Untuk orang2 yg menggunakan fasilitas "gratis ongkir" sy kira jarang yang komplen, tapi untuk orang2 yg bayar fullpayment jasa expedisi sy yakin akhirnya dongkol jg.

Dalam profesionalitas kerja mestinya tak ada beda dalam pelayanan, karena sy yakin sudah ada kesepakatan antara pemilik aplikasi dan penyedia jasa expedisi. Tapi sebagai orang yg tau diri sy sendiri jg kadang gak akan banyak protes karena menggunakan jasa tersebut "gratis kok minta cepat".

Nah pokok dari masalah tersebut sebenarnya adalah kita sebagai konsumen dalam proses menerima informasi agar tak salah paham dalam mendengar, membaca sebuah penawaran (informasi) dan lebih pada pemahaman kita dalam mengerti isi berita atau penawaran tsb, bukan serta merta merasa raja, atau merasa punya lalu menafikan informasi yg ada. Sebagai manusia kadang kala kita bukan kurang membaca atau mungkin tak kurang jg dalam mendengar, tapi cuma kadang kurang/belum lengkap dalam memahami berita. 

Jare wong jaman biyen "Pangan mentah we enak kok repot2 nggodok"'

Layangan


Belakangan hampir tiap hari gavin beli layangan, kadang2 langsung beli 2, katanya jaga2 kalo putus, sering sy bilang ke dia,

👱: "le koe ki paling boros layangan, koncomu we 1 kanggo seminggu, ayah lho 1 we tekan rampung musim layangan"

👦: "Yo ra po2 to yah, nggo sesuk nek pedot"

Dan kemarin dia beli lagi 2pcs, dua-duanya dirusak, gak langsung dibuat mainan, tp dirusak untuk dibuat baru, yg belum tentu bisa diterbangin, dan akhirnya ku buatkan yg rada besar, sambil ku tunjukkan ke dia cara buatnya, setelah jadi dan karena bambu belum kering, ku jemur dulu biar lebih ringan, tapi apalah daya, nafsu mainnya gak bisa dibendung, layangan tetap dia bawa, setelah pulang seperti yg sy duga, ya "rusak juga". Sambil bilang "abot e yah ki tangku kebeler benang"

Ya sudah, akhirnya ku buat lagi yg baru, yg lebih ringan, semoga yg ini gak rusak lagi yo le.

Mungkin dia belum tau seninya main layangan, tarik ulur benang, panggil angin dg bersiul, mirip kan dg pulitik 😄, ga pa2 kelak dia pasti paham, dari pada main HP kan 😁
 
 

Pengen Jadi Yutuber

Beberapa hari yg lalu gavin tanya ke ibunya,

👶 : Buk, biar dapet uang dari yutup itu gimana sih ?
👩 : Ibuk gak tau pin, sana tanya ayahmu aja.

Lanjut mewawancariku, ya karena sy tau karakter dia yg selalu cari kesibukan sendiri ketika di ajak ngobrol, ( tangannya gak mau diam, utak-utik terosss )

👶 : Yah, biar dapet uang dari yutup itu gimana to ?
👨 : Gini pin, koe tenang sek, anteng, dan fokus dengerin, pokoke fokus, oke ?
👶 : Ya, oke ( tetap tangannya cari kesibukan lain )
👱 : Angteng, kui dolananne delehke sek.
👶 : Ya, oke ( anteng, mirip patung )
👱 : Dadi ngene le, jangan fikir uangnya dlu, pokoke ojo, fokus wae karo opo sik tok senengi, saiki senenganmu opo, sih isoh di gawe video ?
👶 : Hmmmmm, mancing, doalan layangan, pitpitan, lah terus kok bisa dapet uang piye ?
👱 : Intinya makin banyak yg nonton makin banyak uangnya, tapi yg paling utama jangan cuma mikirin uang, cari uang tu gampang2 susah, tapi nyari yg beda dan bagus itu yg susah, dan yg paling penting koe kudu seneng sek, nek ra seneng mesti gampang jeleh, le.

Dalam hati, duh kok mancing, bayanganku koyo "mancing mania, mantap" ha larang e leee, ndadak tuku kapal motor sek, hurung pancinge apik2, ha layangan wae apik iki, murah ,
lanjut ngobrol

👱 : Ha gawe layangan wae, besok tak tak rekam ya?
👶 : ya, oke.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Tentang Apa dan Siapa - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger