Headlines News :
Home » » Manusia Belum Lengkap

Manusia Belum Lengkap

Written By Deny abdilah on Jumat, 26 Juli 2019 | 21.20




Saat mendengar, melihat, membaca, kata "gratis" yang pertama orang fikirkan pada umumnya adalah "gak bayar sama sekali alias cuma2", dan ketika mendengar, melihat dan membaca kata "diskon" yang pertama orang fikirkan pada umumnya adalah "potongan harga alias kortingan". Namanya jg orang umum ya pasti pengertiannya umum jg.

Di dunia marketing, kata apa saja bisa menjadi beda arti, tujuannya apa lagi kalo bukan untuk menarik minat konsumen, sebagai contoh iklan sampo yg diperankan oleh Anggun dg kata2 khasnya "jadi duta sampo lain ahaghaghag" padahal blm tentu Anggun sendiri pakai sampo tersebut, minimal gak setiap keramas pake itu lah, kadang2 emeron siapa yang tau ?

Saat ini yg sedang gencar di beberapa platform aplikasi jual beli, dan manjur sekali untuk menarik minat konsumen adalah promo "gratis ongkir" nah ketika orang pertama sekedar dengar atau membaca mungkin taunya ya seberapapun jumlah beli dan nilai transaksinya pasti "gratis biaya kirim tanpa bayar sepeserpun" , tapi saat menggunakan dan memahami tentang batasan dan penggunaannya, akhirnya orang paham bahwa ternyata kata "gratis ongkir" tak lebih dari "diskon" saja, padahal makna awal secara umum 2 kata tersebut jelas beda.

Tapi apapun itu meskin hanya diskon saja faktanya minat pembeli tetap tinggi, terutama bagi orang2 yg lebih senang belanja di online shop, dan paling tinggi peminatnya adalah orang2 "mager", tinggal tak tik tak tik, barang sampai rumah, tanpa harus keluar rumah panas/hujan dijalan belum lagi biaya parkir dan macet dijalan, tentu ini adalah nilai lebih dari aplikasi tersebut, tak ayal pada akhirnya pihak expedisi sendiri yang kewalahan karena saking overload nya barang masuk dan mesti segera dikirim, apakah orang akan protes dg kondisi traffic proses kirim dan terima barang yg terlambat ? Untuk orang2 yg menggunakan fasilitas "gratis ongkir" sy kira jarang yang komplen, tapi untuk orang2 yg bayar fullpayment jasa expedisi sy yakin akhirnya dongkol jg.

Dalam profesionalitas kerja mestinya tak ada beda dalam pelayanan, karena sy yakin sudah ada kesepakatan antara pemilik aplikasi dan penyedia jasa expedisi. Tapi sebagai orang yg tau diri sy sendiri jg kadang gak akan banyak protes karena menggunakan jasa tersebut "gratis kok minta cepat".

Nah pokok dari masalah tersebut sebenarnya adalah kita sebagai konsumen dalam proses menerima informasi agar tak salah paham dalam mendengar, membaca sebuah penawaran (informasi) dan lebih pada pemahaman kita dalam mengerti isi berita atau penawaran tsb, bukan serta merta merasa raja, atau merasa punya lalu menafikan informasi yg ada. Sebagai manusia kadang kala kita bukan kurang membaca atau mungkin tak kurang jg dalam mendengar, tapi cuma kadang kurang/belum lengkap dalam memahami berita.

Jare wong jaman biyen "Pangan mentah we enak kok repot2 nggodok"
 
'#ManusiaBelumLengkap 

Saat mendengar, melihat, membaca, kata "gratis" yang pertama orang fikirkan pada umumnya adalah "gak bayar  sama sekali alias cuma2", dan ketika mendengar, melihat dan membaca kata "diskon" yang pertama orang fikirkan pada umumnya adalah "potongan harga alias kortingan". Namanya jg orang umum ya pasti pengertiannya umum jg.

Di dunia marketing, kata apa saja bisa menjadi beda arti, tujuannya apa lagi kalo bukan untuk menarik minat konsumen, sebagai contoh iklan sampo yg diperankan oleh Anggun dg kata2 khasnya "jadi duta sampo lain ahaghaghag" padahal blm tentu Anggun sendiri pakai sampo tersebut, minimal gak setiap keramas pake itu lah, kadang2 emeron siapa yang tau ? 

Saat ini yg sedang gencar di beberapa platform aplikasi jual beli, dan manjur sekali untuk menarik minat konsumen adalah promo "gratis ongkir" nah ketika orang pertama sekedar dengar atau membaca  mungkin taunya ya seberapapun jumlah beli dan nilai transaksinya pasti "gratis  biaya kirim tanpa bayar sepeserpun" , tapi saat menggunakan dan memahami tentang batasan dan penggunaannya, akhirnya orang paham bahwa ternyata kata "gratis ongkir" tak lebih dari "diskon" saja, padahal makna awal secara umum 2 kata tersebut jelas beda.

Tapi apapun itu meskin hanya diskon saja faktanya minat pembeli tetap tinggi, terutama bagi orang2 yg lebih senang belanja di online shop, dan paling tinggi peminatnya adalah orang2 "mager", tinggal tak tik tak tik, barang sampai rumah, tanpa harus keluar rumah panas/hujan dijalan belum lagi biaya parkir dan macet dijalan, tentu ini adalah nilai lebih dari aplikasi tersebut, tak ayal pada akhirnya pihak expedisi sendiri yang kewalahan karena saking overload nya barang masuk dan mesti segera dikirim, apakah orang akan protes dg kondisi traffic proses kirim dan terima barang yg terlambat ? Untuk orang2 yg menggunakan fasilitas "gratis ongkir" sy kira jarang yang komplen, tapi untuk orang2 yg bayar fullpayment jasa expedisi sy yakin akhirnya dongkol jg.

Dalam profesionalitas kerja mestinya tak ada beda dalam pelayanan, karena sy yakin sudah ada kesepakatan antara pemilik aplikasi dan penyedia jasa expedisi. Tapi sebagai orang yg tau diri sy sendiri jg kadang gak akan banyak protes karena menggunakan jasa tersebut "gratis kok minta cepat".

Nah pokok dari masalah tersebut sebenarnya adalah kita sebagai konsumen dalam proses menerima informasi agar tak salah paham dalam mendengar, membaca sebuah penawaran (informasi) dan lebih pada pemahaman kita dalam mengerti isi berita atau penawaran tsb, bukan serta merta merasa raja, atau merasa punya lalu menafikan informasi yg ada. Sebagai manusia kadang kala kita bukan kurang membaca atau mungkin tak kurang jg dalam mendengar, tapi cuma kadang kurang/belum lengkap dalam memahami berita. 

Jare wong jaman biyen "Pangan mentah we enak kok repot2 nggodok"'
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Tentang Apa dan Siapa - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger