Watu Upas
Perkembangan teknologi memang membawa dampak cukup besar dalam kehidupan, bahkan kadang jg sampai kematian, gak cuma soal berita2 kriminal, politik, sosial, budaya, bahkan merambah kedunia jual beli/marketing.
Ibarat kata, jaman dulu meski yg pakai banyak, sumurnya 1, yg punya 1, jaman sekarang, yg banyak sudah punya sumur masing2, setiap orang bisa mengambil dari sumur mana saja, kadang saking penasaranya orang gak ngerti lagi sumur tersebut diracun ato tidak oleh pemiliknya, bodo amat yg penting rasa penasarannya terobati.
Blm lama sy melihat iklan promote by fb yg linknya masuk kesalah 1 market place, dlm tumblenail yg muncul adalah salah satu benda yg sebenarnya jaman dulu banyak orang menganggapnya sakral, kadang sampai rela ke hilangan apapun untuk mendapatkannya, ya "pring pethuk" tapi palsu, setidaknya meski palsu sudah dijelas barang tsb palsu, jadi buyer gak "tertipu" lagi saat membeli, meski sebenarnya barang tipu2, sampai sekarangpun sy blm tau apa manfaatnya barang tsb.
Tak jauh beda dg market place apps yg marak saat ini, market place fb di berbagai group lokal maupun nasional bertebaran dijual belikan barang2 yg mungkin aneh, dan jarang, hingga membuat orang penasaran dan akhirnya beli juga, dan saat kemarin sy melihat salah satu produk jualan yg unik, rasanya konsep seperti ini tak jauh beda dg produk "pring pethuk" tadi.
Yg membuat sy tertarik jelas satu adalah produknya, dua ilustrasinya, dalam keterangan "batu wisa(racun)" tp ilustrasinya batu tsb tertempel pada bibir modelnya, entah apa mksdunya, seandainya memang untuk memberikan penjelasan pada orang yg terkena racun misalnya, mestinya ilustrasinya adalah bagian kaki, tangan, atau bagain tubuh lain yg rentan terkena sengat atau racun binatang, tp ini menurut pandanganku sebagai orang awam.
Namun jika dilihat nilai folosofisnya sy kira lebih tepat sepeti ilustrasi tersebut, ya gimana tidak, di era segalanya serba bebas, yg setiap orang bebas bicara apa saja tanpa mengukur kapasitasnya dan kemampuan berfikir serta mengolah informasi, "mulut" adalah sumber racun paling utama, meski lebih banyak terwakili oleh jari, tapi tak mengurangi esensi bahwa setiap kata dan ucapan ilustrasinya adalah mulut.
Kadang kala sy heran dg orang2 yg merasa serba tau segalanya itu, tapi lupa bercermin pada dirinya sendiri, hingga dalam setiap apa yg mereka bagi dari sumur orang berisi racun, hingga lupa mengisi sumurnya sendiri meski keruh paling tidak dia tau bahwa arinya keruh dan tau apa yg mesti dia lakukan yg terbaik untuknya, hingga pada akhirnya dia tau betul, bahwa yg diminum adalah kejernihan.
" Timbang nggeguyu urip wong liyo, nggeguyu uripe dewe rak yo luweh kepenak lur "

Posting Komentar